Ucapkan Selamat Milad, Ini Kesan Fahri Hamzah Tentang Prabowo

Rabu, 17 Oktober 2018

Faktakini.com

SELAMAT MILAD PAK PRABOWO

Suatu sore sekitar 2015: saya minta selfie ke pak Prabowo lalu setelah jepretan pertama beliau ambil kopiah saya dan dia pakai lalu bilang “Coba jepret sekali lagi”.
Jadilah 2 selfie lucu ini.
Selera humor beliau tinggi tapi dicitrakan sebaliknya

Saya mengenal beliau sebelum 1998. Sebagai aktifis  mahasiswa UI kami sering bergerilya bertemu elit negeri yang sedang nampak berbeda gagasan. Ada kelompok reformis ada yang status quo. Kata-kata ini sangat terkenal di kalangan aktifis dahulu. Mahasiswa sedang gelisah.

Saya bertemu sejak sebelum 1998 dalam banyak momen. Menarik saja mendengar, berkenalan atau berdiskusi dengan seorang di masa itu yang kompleks identitasnya; anak prof Sumitro guru besar kami di FEUI, menantu pak Harto yang sedang sangat berkuasa, dianggap berwarna “hijau”.

Di zaman orde baru sangat berkuasa, jarang orang yang boleh nampak membangun akar ke bawah. Prabowo tidak membangun jaringan ke bawah tapi ia hadir dalam pertemuan dua arus  hijau; tentara dan Islam, pasca rezim Beni Moerdani di TNI yang jadi momok kelompok Islam.

Jadilah Prabowo dan Habibie (di kalangan sipil) menjadi tumpuan baru kelompok yang merindukan sikap negara yang lebih baik terhadap mereka. Dua orang itu berhasil dipecah. Tetapi Arus besar tetap ada. Dan Prabowo menjalani takdirnya sebagai manusia yang berada di tengah gejolak.

Saya seperti merasakan betul bagaimana 2 aktor ini “terpaksa muncul” lalu dimatikan. Pak Habibie hanya diberi kesempatan memimpin bangsa ini setahun 7 bulan. Padahal dalam masa singkat itu beliau menuai prestasi yang luar biasa. Tapi ia dicitrakan sebagai monster yang bahaya.

Suatu hari, almarhum Adi Sasono menceritakan kepada saya tentang seorang wartawati CNN datang untuk mewawancara pak Presiden Habibie. Ia datang dengan mindset akan mewawancarai orang yang berbahaya.  Tapi sepanjang wawancara justru perempuan itu terpukau.

Saking bercampur perasaan wartawati itu tentang apa yang ia ketahui sebelumnya tentang Presiden Habibie dengan kenyataan yang ia hadapi, ia meminta apakah boleh menyentuh presiden. “Mr President, can I touch you?” Dan pak Habibie menjulurkan tangannya. “Sure!”

Konon masih menurut almarhum Adi Sasono, wartawati CNN itu keluar dari rumah pak Habibie di kompleks Patra Kuningan dengan perasaan bercampur, “kenapa orang yang begini baik, dicitrakan berbahaya seperti monster?”. Barat pada waktu itu memang sangat anti Habibie.

Saya ingin menyatakan pada Hari Milad 67 Prabowo ini perasaan yang sama. Pak Habibie seolah hanya boleh menjadi presiden 1 tahun 7 bulan. Padahal kita tahu bagaimana prestasi beliau. Dan belakangan kita tahu bagaimana romantismya beliau dari riwayat hidup keluarga beliau.

Begitulah saya mengenal pak Prabowo sudah lebih dari 20 tahun ini. Saya mengerti pada pusaran politik apa dia berputar, saya juga mengerti bagaimana upaya orang menghancurkan karakternya. Ada banyak fiksi yang mereka bangun tentang orang yang hari ini berumur 67 tahun.

Memang dosa Prabowo adalah terlalu dikenal oleh musuh-musuhnya. Hal ini karena narasi yang ia bangun saat orde baru sama saja dengan sekarang; ia seorang pembaharu. Lebih 20 tahun lalu saya melihat dia juga berpidato berapi-api sebagai Pangkostrad atau DANJEN Kopassus. Di zaman orba.

Bagaimana lingkar kekuasaan pada zaman itu tidak curiga dia akan kudeta? Itulah yang sampai sekarang masih jadi cerita. Padahal itu berbalik dengan kenyataan yang ada. Prabowo sangat menghormati pak Habibie, mustahil ia menikam dari belakang.

Titik krusial bagi Prabowo adalah pergantian dari pak Harto ke pak Habibie. Rezim baru segera dihasut untuk membencinya sampai beliau menjaga jarak jauh dengan penguasa. Tapi beliau patriot negara. Apapun ia akan tetap patriot negara.

Tantangan besar bagi pak Prabowo sekarang adalah tampil di depan rakyat dan bangsa Indonesia apa adanya. Ceritakan segalanya apa adanya. Kembalikan memori sebuah bangsa tentang sejarah yang benar. Jangan biarkan orang mengarang cerita fiksi tentang dirinya.

Suatu hari, lupa persisnya, di rumah beliau kawasan Kemang setelah beliau menjadi pengusaha murni.  Tidak ada politik hari itu, tapi dia masih menasihati saya dan beberapa teman, “kalian masih muda dan jangan tinggalkan tradisi perjuangan, berdiskusi dan membangun jaringan”.

Itu yang membuat saya yakin, bahwa Prabowo tak akan betah hanya menjadi pengusaha, tradisi berpikir idealisnya kental sekali. Dan benar akhirnya dengan kawan-kawan dekatnya beliau membangun partai Gerindra yang sekarang menjadi partai papan atas.

Tidak mudah membangun partai dan berjuang melalui jalur demokrasi ini. Dan ini adalah bantahan bahwa Prabowo tidak komit dengan demokrasi. Seolah kalau ia akan menjadi presiden dia akan seperti diktator masa lalu. Tidak! Itu telah terbantahkan.

Tapi itulah tugas narator pasangan Prabowo Sandiuno ke depan.  Lawanlah fiksi itu dengan memori sejarah yang benar. Sebab tanggal 17 April 2019 sudah dekat. Hari ketika rakyat akan memilih presiden NKRI dalam ruang kotak suara yang tertutup. Prabowo atau Jokowi.  Entah.

Sebagai rakyat kita hanya melihat sejarah. Semoga Allah SWT menjaga negeri ini dari malapetaka. Dan menumbuhkan kemakmuran bagi rakyatnya. Amin YRA.

Twitter @Fahrihamzah 17/10/2018