Kisah Presiden Soeharto Saat Masuk Ke Dalam Ka'bah Dan Mencium Hajar Aswad Empat Kali
Senin, 15 April 2019
Faktakini.com, Jakarta - Berita Tahun 1995 / Oleh ARS / 7 Januari 2019 / GNB, Ka'bah, KTT, VVIP
Seorang Kepala Negara atau Presiden Muslim di dunia, sering diberikan izin oleh pemerintah kerajaan Arab Saudi untuk masuk ke dalam Ka'bah.
Terlebih lagi untuk Presiden dari negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia seperti Indonesia, wajar apabila diberi perhatian lebih oleh Kerajaan Saudi Arabia untuk masuk ke dalam Ka'bah.
Presiden Soekarno, Soeharto dan SBY adalah kepala negara dari Indonesia yang telah masuk ke dalam Ka'bah.
Presiden Soeharto bersama rombongan mendapat kesempatan sangat istimewa, yakni masuk ke ruangan Ka’bah.
Ini merupakan peristiwa yang jarang terjadi. Kesempatan pertama diberikan kepada Pak Harto, lbu Tien, Nyonya Siti Hardiyanti dan suaminya, Indra Rukmana serta adik-adiknya dan cucu Pak Harto.
Wartawan Merdeka Yoedi Karyono yang ikut bersama rombongan Presiden melaporkan dari Makkah tadi malam bahwa keluarga besar Pak Harto berada di dalam Kabah sekitar 20 menit.
Ketika keluar dari dalam Ka’bah wajah Pak Harto tampak berseri-seri dan cerah. Demikian pula dengan Ibu Tien. Sedangkan Mbak Titiek Prabowo, tampak bahagia dan tak kuat menahan rasa harumya. Dia tampak menyeka air matanya. Hal serupa tampak pada Mbak Tutut (Nyonya Siti Hardiyanti).
Suasana serupa juga dialami hampir seluruh keluarga besar Presiden. Ini bisa dimaklumi. Sebab, setiap muslim mendambakan bisa masuk ke dalam ruang Ka’bah yang selalu tertutup itu, ketika mereka melaksanakan ibadah umroh atau ibadah haji. Kesempatan masuk ruang Ka’bah itu diberikan setelah keluarga besar Pak Harto selesai menunaikan tawaf dan melaksanakan tata cara tawaf. Pada saat tawaf. Pak Harto dan Ibu Tien sedikitnya empat kali mencium Hajar Aswad. Hal serupa juga dilakukan para putera-puteri, cucu dan menantu Pak Harto.
Setelah melaksanakan tawaf dan berdoa di ruangan Ka bah, Pak Harto sekeluarga melanjutkan ibadah Sa’i. Pada saat melaksanakan ibadah ini, Ibu Tien didampingi putranya Bambang Trihatmojo.
Dalam melakukan ibadah Sa’i, Ibu Tien menggunakan kursi roda yang didorong oleh Bambang Trihatmodjo.
Namun Pak Harto yang didampingi para menteri, dengan wajah segar dan berseri melaksanakan ibadah ini dengan berjalan kaki, bahkan berlari-lari kecil pada saat melewati dua pilar hijau antara Bukit Safa dan Marwah.
Seusai melakukan perjalanan kenegaraan mengikuti KTT GNB di Kolombia, Sidang Umum PBB di New York, bertemu Presiden Bill Clinton di Gedung Putih, Washington dan berkunjung ke Suriname, Presiden Soeharto dan Ibu Tien selaku pribadi melakukan ibadah umroh ke Tanah Suci Makkah.
Para putera-puteri, menantu dan para cucu Pak Harto bergabung di sana. Ibadah sunah ini dilaksanakan Pak Harto dan rombongan pada 30 Oktober pukul 21.10 waktu setempat (31 Oktober pukul Ol.lO WIB).
Putera-puteri yang mendampinginya ialah Mbak Tutut (puteri sulung) dan suaminya Indra Rukmana, Bambang Trihatmodjo dan isterinya Nyonya Halimah serta Ny Siti Hediyanti Herijadi Prabowo atau Mbak Titiek, serta enam cucu presiden.
Keluarga besar Pak Harto menjadi tamu khusus Raja Arab Saudi Fahd. Sebelum melaksanakan ibadah umroh, Pak Harto diterima di istana kerajaan yang bersebelahan dengan Masjidil Haram.
Sedangkan menteri yang mendampingi presiden ialah Mensesneg Moerdiono, Menteri Luar Negeri dan Nyonya Ali Alatas, Menteri Agama Tarmizi Taher beserta isteri. Meski Pak Harto dan Ibu Tien serta keluarga melaksanakan ibadah itu sebagai pribadi, Raja Fahd tetap memberikan pelayanan terbaik.
Misalnya, pengamanan standar Very Very Important Person (VVIP) tetap diberlakukan, dengan mengerahkan ratusan askar untuk mempermudah pelaksanaan umroh. Putera-puteri, cucu dan menantu Pak Harto bergabung di Jeddah. Mereka tiba di Jeddah sehari sebelum rombongan kepresidenan berada di sana. Selanjutnya mereka bersama-sama menuju Makkah untuk keperluan ibadah. Pada tahun 1991, keluarga Pak Harto telah melaksanakan ibadah haji. Sebelumnya, mereka telah melaksanakan ibadah urnroh dalam berbagai kesempatan. Pada saat melaksanakan ibadah, Pak Harto didampingi Pangeran Mochseen, salah seorang kerabat Raja Fahd yang juga menjabat sebagai Wakil Gubernur Makkah.
Tak Terduga
Menjelang pintu Ka’bah dibuka, ratusan jamaah yang sedang melaksanakan umroh menanti dengan sabar.
Mereka berdoa dengan khusuk. Pada saat pintu terbuka, mereka menangis sambil memanjatkan doa kepada Allah SWT. Bahkan mereka berusaha untuk mendekati pintu yang sedang terbuka.
Namun askar dengan tangkas menghambat langkah mereka. Tidak terduga sebelurnnya bahwa pintu Ka ‘bah itu akan dibuka.
Sebab, seminggu sebelumnya, di tempat yang sama, Perdana Menteri Bosnia Haris Siladjzik juga melaksanakan ibadah umroh.
Namun Arab Saudi tidak memberikan kesempatan untuk masuk ke ruang Ka ‘bah.
Pada saat Presiden Soeharto melaksanakan ibadah urnroh itulah pemerintah Saudi memberikan kesempatan kepada tamunya.
Satu hal yang sangat menguntungkan bagi rombongan kepresidenan, yakni mendapat kesempatan yang sama untuk masuk ke ruang dalam Ka’bah.
Selain Merdeka , wartawan yang beruntung mendapat kesempatan ialah TVRI, Sinar Indonesia Baru Medan, Angkatan Bersenjata, Suara Merdeka Semarang, The Jakarta Post, Majalah Gatra, dan LKBN Antara. Kesempatan itu diperoleh tidak dengan mudah, harus melalui himpitan askar dan ratusan jamaah lain yang kebetulan berada di tempat sama dan berkeinginan besar masuk ke ruangan Ka’bah.
Pada saat keluar dari ruangan Ka’bah itu, tak terasa wartawan saling berpelukan dan menangis menandakan bahagia. lsi dalam ruangan Ka ‘bah tidak seorang pun yang dapat mendiskripsikan dengan jelas.
Sebab, sebagian besar ulama mengatakan bahwa ruangan dalam Ka’bah merupakan rahasia Allah semata. Dengan demikian manusia yang serba kekurangan tidak akan mampu menggambarkan dengan tuntas.
Sumber: MERDEKA ( 0 l/11/1995)
__________________________
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 547-550.
Faktakini.com, Jakarta - Berita Tahun 1995 / Oleh ARS / 7 Januari 2019 / GNB, Ka'bah, KTT, VVIP
Seorang Kepala Negara atau Presiden Muslim di dunia, sering diberikan izin oleh pemerintah kerajaan Arab Saudi untuk masuk ke dalam Ka'bah.
Terlebih lagi untuk Presiden dari negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia seperti Indonesia, wajar apabila diberi perhatian lebih oleh Kerajaan Saudi Arabia untuk masuk ke dalam Ka'bah.
Presiden Soekarno, Soeharto dan SBY adalah kepala negara dari Indonesia yang telah masuk ke dalam Ka'bah.
Presiden Soeharto bersama rombongan mendapat kesempatan sangat istimewa, yakni masuk ke ruangan Ka’bah.
Ini merupakan peristiwa yang jarang terjadi. Kesempatan pertama diberikan kepada Pak Harto, lbu Tien, Nyonya Siti Hardiyanti dan suaminya, Indra Rukmana serta adik-adiknya dan cucu Pak Harto.
Wartawan Merdeka Yoedi Karyono yang ikut bersama rombongan Presiden melaporkan dari Makkah tadi malam bahwa keluarga besar Pak Harto berada di dalam Kabah sekitar 20 menit.
Ketika keluar dari dalam Ka’bah wajah Pak Harto tampak berseri-seri dan cerah. Demikian pula dengan Ibu Tien. Sedangkan Mbak Titiek Prabowo, tampak bahagia dan tak kuat menahan rasa harumya. Dia tampak menyeka air matanya. Hal serupa tampak pada Mbak Tutut (Nyonya Siti Hardiyanti).
Suasana serupa juga dialami hampir seluruh keluarga besar Presiden. Ini bisa dimaklumi. Sebab, setiap muslim mendambakan bisa masuk ke dalam ruang Ka’bah yang selalu tertutup itu, ketika mereka melaksanakan ibadah umroh atau ibadah haji. Kesempatan masuk ruang Ka’bah itu diberikan setelah keluarga besar Pak Harto selesai menunaikan tawaf dan melaksanakan tata cara tawaf. Pada saat tawaf. Pak Harto dan Ibu Tien sedikitnya empat kali mencium Hajar Aswad. Hal serupa juga dilakukan para putera-puteri, cucu dan menantu Pak Harto.
Setelah melaksanakan tawaf dan berdoa di ruangan Ka bah, Pak Harto sekeluarga melanjutkan ibadah Sa’i. Pada saat melaksanakan ibadah ini, Ibu Tien didampingi putranya Bambang Trihatmojo.
Dalam melakukan ibadah Sa’i, Ibu Tien menggunakan kursi roda yang didorong oleh Bambang Trihatmodjo.
Namun Pak Harto yang didampingi para menteri, dengan wajah segar dan berseri melaksanakan ibadah ini dengan berjalan kaki, bahkan berlari-lari kecil pada saat melewati dua pilar hijau antara Bukit Safa dan Marwah.
Seusai melakukan perjalanan kenegaraan mengikuti KTT GNB di Kolombia, Sidang Umum PBB di New York, bertemu Presiden Bill Clinton di Gedung Putih, Washington dan berkunjung ke Suriname, Presiden Soeharto dan Ibu Tien selaku pribadi melakukan ibadah umroh ke Tanah Suci Makkah.
Para putera-puteri, menantu dan para cucu Pak Harto bergabung di sana. Ibadah sunah ini dilaksanakan Pak Harto dan rombongan pada 30 Oktober pukul 21.10 waktu setempat (31 Oktober pukul Ol.lO WIB).
Putera-puteri yang mendampinginya ialah Mbak Tutut (puteri sulung) dan suaminya Indra Rukmana, Bambang Trihatmodjo dan isterinya Nyonya Halimah serta Ny Siti Hediyanti Herijadi Prabowo atau Mbak Titiek, serta enam cucu presiden.
Keluarga besar Pak Harto menjadi tamu khusus Raja Arab Saudi Fahd. Sebelum melaksanakan ibadah umroh, Pak Harto diterima di istana kerajaan yang bersebelahan dengan Masjidil Haram.
Sedangkan menteri yang mendampingi presiden ialah Mensesneg Moerdiono, Menteri Luar Negeri dan Nyonya Ali Alatas, Menteri Agama Tarmizi Taher beserta isteri. Meski Pak Harto dan Ibu Tien serta keluarga melaksanakan ibadah itu sebagai pribadi, Raja Fahd tetap memberikan pelayanan terbaik.
Misalnya, pengamanan standar Very Very Important Person (VVIP) tetap diberlakukan, dengan mengerahkan ratusan askar untuk mempermudah pelaksanaan umroh. Putera-puteri, cucu dan menantu Pak Harto bergabung di Jeddah. Mereka tiba di Jeddah sehari sebelum rombongan kepresidenan berada di sana. Selanjutnya mereka bersama-sama menuju Makkah untuk keperluan ibadah. Pada tahun 1991, keluarga Pak Harto telah melaksanakan ibadah haji. Sebelumnya, mereka telah melaksanakan ibadah urnroh dalam berbagai kesempatan. Pada saat melaksanakan ibadah, Pak Harto didampingi Pangeran Mochseen, salah seorang kerabat Raja Fahd yang juga menjabat sebagai Wakil Gubernur Makkah.
Tak Terduga
Menjelang pintu Ka’bah dibuka, ratusan jamaah yang sedang melaksanakan umroh menanti dengan sabar.
Mereka berdoa dengan khusuk. Pada saat pintu terbuka, mereka menangis sambil memanjatkan doa kepada Allah SWT. Bahkan mereka berusaha untuk mendekati pintu yang sedang terbuka.
Namun askar dengan tangkas menghambat langkah mereka. Tidak terduga sebelurnnya bahwa pintu Ka ‘bah itu akan dibuka.
Sebab, seminggu sebelumnya, di tempat yang sama, Perdana Menteri Bosnia Haris Siladjzik juga melaksanakan ibadah umroh.
Namun Arab Saudi tidak memberikan kesempatan untuk masuk ke ruang Ka ‘bah.
Pada saat Presiden Soeharto melaksanakan ibadah urnroh itulah pemerintah Saudi memberikan kesempatan kepada tamunya.
Satu hal yang sangat menguntungkan bagi rombongan kepresidenan, yakni mendapat kesempatan yang sama untuk masuk ke ruang dalam Ka’bah.
Selain Merdeka , wartawan yang beruntung mendapat kesempatan ialah TVRI, Sinar Indonesia Baru Medan, Angkatan Bersenjata, Suara Merdeka Semarang, The Jakarta Post, Majalah Gatra, dan LKBN Antara. Kesempatan itu diperoleh tidak dengan mudah, harus melalui himpitan askar dan ratusan jamaah lain yang kebetulan berada di tempat sama dan berkeinginan besar masuk ke ruangan Ka’bah.
Pada saat keluar dari ruangan Ka’bah itu, tak terasa wartawan saling berpelukan dan menangis menandakan bahagia. lsi dalam ruangan Ka ‘bah tidak seorang pun yang dapat mendiskripsikan dengan jelas.
Sebab, sebagian besar ulama mengatakan bahwa ruangan dalam Ka’bah merupakan rahasia Allah semata. Dengan demikian manusia yang serba kekurangan tidak akan mampu menggambarkan dengan tuntas.
Sumber: MERDEKA ( 0 l/11/1995)
__________________________
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 547-550.