PA 212 Akan Polisikan Hendropriyono Soal Ucapan Rasis 'WNI Keturunan Arab'
Rabu, 8 Mei 2019
Faktakini.net, Jakarta - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono telah mengancam Habib Rizieq Shihab dan para WNI keturunan Arab supaya tidak menjadi provokator.
Atas pernyataan itu mengancam dan rasialis itu, PA 212 pun berencana melaporkan Hendropriyono ke polisi atas dugaan ujaran kebencian.
"Insya Allah saya dan keturunan Arab yang lain akan melaporkan Hendropriyono yang telah melakukan ujaran kebencian membuat provokator bernuansa sara," kata Ustadz Novel Bamukmin kepada wartawan, Selasa (7/5/2019).
Rencananya, Ustadz Novel akan melaporkan Hendropriyono ke Polri. Namun, Ustadz Novel tak menjelaskan kapan pelaporan itu akan dilakukan.
"Hari ini kita dari korlabi masih kordinasikan dengan advokat muslim alumni 212 yang lain dan insyaAllah akan kita laporkan ke Mabes Polri," katanya.
Sementara, Ketua PA 212 KH Slamet Ma'arif menilai pernyataan itu menunjukkan bahwa Hendropriyono seorang yang rasis. Kyai Slamet juga menilai Hendropriyono tak paham sejarah.
"Bukti dia rasis dan nggak ngerti sejarah," kata Kyai Slamet.
Hendropriyono sebelumnya mengancam para WNI keturunan Arab agar tidak menjadi provokator. Hendropriyono tak mau seruan makar itu meluas.
"Saya peringatkan Rizieq, Yusuf Martak, dan orang-orang yang meneriakkan revolusi kan sudah banyak. Itu inkonstitusional, merusak disiplin dan tata tertib sosial, jangan seperti itu," kata Hendropriyono kepada wartawan, Selasa (7/5).
Hendropriyono mengatakan banyak warga keturunan Arab yang sangat dihormati di masyarakat. Karena itu, dia mengklaim merasa perlu memperingatkan sebagian warga keturunan Arab untuk tidak memprovokasi revolusi sampai turun ke jalan.
"Kalau kenyataan di masyarakat kita itu sangat menghormati orang-orang Arab, mereka kan juga warga negara Indonesia. Kalau di kampung-kampung kita masih bisa lihat orang Arab datang ke kampung-kampung pada cium tangan. Berarti posisinya mereka kan berada pada tempat yang dimuliakan, mereka kemudian langsung atau tidak langsung terakui sebagai pemimpin informal, informal leader," tudingnya.
Foto: Ustadz Novel Bamukmin
Sumber: detik.com
Faktakini.net, Jakarta - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono telah mengancam Habib Rizieq Shihab dan para WNI keturunan Arab supaya tidak menjadi provokator.
Atas pernyataan itu mengancam dan rasialis itu, PA 212 pun berencana melaporkan Hendropriyono ke polisi atas dugaan ujaran kebencian.
"Insya Allah saya dan keturunan Arab yang lain akan melaporkan Hendropriyono yang telah melakukan ujaran kebencian membuat provokator bernuansa sara," kata Ustadz Novel Bamukmin kepada wartawan, Selasa (7/5/2019).
Rencananya, Ustadz Novel akan melaporkan Hendropriyono ke Polri. Namun, Ustadz Novel tak menjelaskan kapan pelaporan itu akan dilakukan.
"Hari ini kita dari korlabi masih kordinasikan dengan advokat muslim alumni 212 yang lain dan insyaAllah akan kita laporkan ke Mabes Polri," katanya.
Sementara, Ketua PA 212 KH Slamet Ma'arif menilai pernyataan itu menunjukkan bahwa Hendropriyono seorang yang rasis. Kyai Slamet juga menilai Hendropriyono tak paham sejarah.
"Bukti dia rasis dan nggak ngerti sejarah," kata Kyai Slamet.
Hendropriyono sebelumnya mengancam para WNI keturunan Arab agar tidak menjadi provokator. Hendropriyono tak mau seruan makar itu meluas.
"Saya peringatkan Rizieq, Yusuf Martak, dan orang-orang yang meneriakkan revolusi kan sudah banyak. Itu inkonstitusional, merusak disiplin dan tata tertib sosial, jangan seperti itu," kata Hendropriyono kepada wartawan, Selasa (7/5).
Hendropriyono mengatakan banyak warga keturunan Arab yang sangat dihormati di masyarakat. Karena itu, dia mengklaim merasa perlu memperingatkan sebagian warga keturunan Arab untuk tidak memprovokasi revolusi sampai turun ke jalan.
"Kalau kenyataan di masyarakat kita itu sangat menghormati orang-orang Arab, mereka kan juga warga negara Indonesia. Kalau di kampung-kampung kita masih bisa lihat orang Arab datang ke kampung-kampung pada cium tangan. Berarti posisinya mereka kan berada pada tempat yang dimuliakan, mereka kemudian langsung atau tidak langsung terakui sebagai pemimpin informal, informal leader," tudingnya.
Foto: Ustadz Novel Bamukmin
Sumber: detik.com