Rakyat Indonesia Aksi Bela Uighur Di Depan Kedubes Cina, Warga Uighur: Terima Kasih
Senin, 30 Desember 2019
Faktakini.net, Jakarta - Seorang warga yang berasal dari etnis Uighur di Xinjiang, China turut serta dalam kerumunan ribuan orang yang berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar China, Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (27/12).
Pria berkacamata yang mengenakan jaket hitam itu mengaku bernama Seyit Tumturk atau Said Turtub. Dia naik ke atas mobil komando dan berbicara dengan menggunakan bahasa Xinjiang, China.
Seorang penerjemah mengartikan kalimatnya saat menyapa demonstran. Penerjemah itu menyebut bahwa Said merupakan pemuda berusia 35 tahun dari etnis Uighur.
“Terima kasih saudaraku di Indonesia karena kalian memberikan perhatian kepada Uighur. Walaupun warga dunia terdiam tapi kalian tetap menyuarakan suara kalian,” ujar Said seperti yang disampaikan penerjemah.
Menurutnya, aksi ini tidak hanya mewakili umat musli di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia atas tindakan diskriminatif di Xinjiang.
Said juga mengaku tidak bisa berkomunikasi dengan keluarganya yang berada di Xinjiang lantaran pemerintah China menutup akses komunikasi mereka.
“Kami tidak bisa menghubungi keluarga kami disana dan mereka berusaha menghilangkan bangsa Uighur dari sana,” ucapnya.
“Free Uighur!” teriak Said sambil mengepal tangan.
Said berharap dengan adanya aksi besar-besaran di Indonesia, pemerintah China tergerak untuk membebaskan muslim Uighur.
“Insya Allah dengan adanya demo dunia akan melihat dan insyaAllah muslim Uighur terbebas dari China,” tandasnya.
Dikabarkan Sebelumnya, ia adalah pemimpin Turkistan Timur di Istanbul.
Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur di Istanbul, Seyit Tümtürk,
berterimakasih kepada seluruh masyarakat Indonésia, ormas Islam, lembaga-lembaga dan media atas solidaritasnya kepada Muslim Uighur.
.
Tümtürk, mewakili 35 juta warga Muslim Uighur, menyampaikan salam keselamatan kepada bangsa Indonésia.
.
Dalam diskusi & konferensi pers bertajuk ‘Kesaksian dari Balik Tembok Penjara Uighur’ yang diinisiasi Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Seyit Tümtürk menjelaskan bahwa sudah sejak lama Turkistan Timur ditindas oleh rezim komunis Cina. Dengan alasan itu, Tümtürk dan beberapa perwakilan masyarakat Uighur datang ke Indonesia.
.
“Dalam hitungan PBB, angka masyarakat Uighur yang ditahan di Kamp Konsentrasi Cina sebanyak lebih satu juta orang. Akan tetapi, menurut data yang kami kumpulkan ada sekitar 3 hingga 5 juta orang. Mereka mendapat siksaan lebih dari yang dilakukan oleh Nazi,” ujar Tümtürk dalam bahasa Turki, di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (12/1/2019).
.
Dia menjelaskan Kamp Penyiksaan terhadap Muslim Uighur disebut oleh rezim komunis Cina sebagai proyek “Persaudaraan Keluarga”, padahal sejatinya itu adalah sebuah kamp genosida terhadap muslim Uighur. Muslim Uighur yang ditahan di sana pun karena dituduh sebagai teroris, radikalis.
.
“Amat kita sayangkan, 3 hingga 5 juta Muslim Uighur disiksa, tapi dunia buta dan tuli terhadap apa yang terjadi di sana. Dan atas semua penindasan itu, alhamdulillah masyarakat Muslim Indonesia turun ke jalan menyuarakan pembebasan Muslim Uighur,” ujarnya yang dikutip INA News Agency (INA)—sindikasi berita bentukan JITU, Sabtu (12/1).
Foto: Said di Aksi Bela Uighur di depan Kedubes Cina beserta para peserta aksi, Jum'at (27/12/2019)
Sumber: rmol, salam-online