Jawaban Logika Idiot Buzzer: "Di Pusat Datanya 112, Anies Sebut 283 Nyolong Jenazah Dimana?"



Rabu, 1 April 2020

Faktakini.net

Sisi Kemanusiaan Anies Diuji Para Buzzer dan Sampah Peradaban*

Pernyataan Gubernur Anies Baswedan menyebut 283 kematian dimakamkan dengan standar pemulasaraan pasien Corona (Covid-19) menyentuh hati banyak orang.

Bagaimana tidak, jika selama ini angka-angka itu hanya dipandang statistik oleh sebagian orang, Anies melihat kesedihan banyak keluarga di atas kehidupan yang direnggut di masa wabah Corona ini.

Pada saat mengumumkan pun Anies terlihat bergetar, baginya mengatakan jumlah nyawa hilang ada kegetiran, sisi kemanusiaannya sangat menyayangkan ini bisa terjadi.

"Karena itu saya benar-benar meminta kepada seluruh, masyarakat Jakarta jangan pandang angka ini sebagai angka statistik. 283 itu bukan angka statistik, itu adalah warga yang bulan lalu sehat, yang bulan lalu bisa berkegiatan, mereka punya istri, punya saudara," kata Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (30/3).

Namun seperti biasa, semua yang dilakukan oleh Anies Baswedan selalu dihina dan dimaki oleh para Buzzer dan sampah peradaban. Mereka tidak peduli dengan kemanusiaan.

"Di pusat datanya 112, kok Anies 283 sisanya nyolong Jenazah dimana?" Begitulah garis besar isi caci maki Buzzer terhadap Anies.

Bagi para Buzzer, jumlah kematian pasien positif dan dan terduga Corona hanyalah seonggok angka, tidak ada kesedihan dan keluarga yang ditinggalkan. Benar-benar tidak masuk akal.

Memang jumlah 283 yang disampaikan Anies lebih banyak dari apa yang diumumkan oleh juru bicara corona Pemerintah Pusat. Tapi Anies sudah mengatakan bahwa angka kematian tersebut terjadi dari 6-29 Maret 2020 dimana sebagian dari mereka diduga terpapar Corona namun belum sempat dilakukan tes atau hasil tes belum keluar ketika meninggal.

Perlu diketahui apa yang disampaikan oleh Anies ada dasarnya, ini senada dengan studi yang dilakukan oleh pakar dunia.

Dilansir dari media kredibel Reuters, sebuah studi terkait Pusat Pemodelan Matematika untuk Penyakit Menular yang berbasis di London, Inggris, yang dirilis pada Senin (23/3) memperkirakan hanya dua persen dari dari jumlah keseluruhan kasus infeksi corona di Indonesia yang telah dilaporkan. Hal itu berarti angka sebenarnya pasien dapat mencapai 34.300 orang atau lebih banyak daripada Iran.

Pemodelan lain memproyeksikan, dalam skenario terburuk, jumlah kasus bisa meningkat hingga menyerang 5 juta orang terinfeksi di Jakarta pada akhir April mendatang.

Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Indonesia hanya memiliki 321.544 tempat tidur rumah sakit. Angka itu berarti sekitar 12 tempat tidur per 10 ribu orang. Bandingkan Korea Selatan (Korsel) yang memiliki 115 per 10 ribu orang.

Dengan fakta dan data di atas sangat lucu jika kenyataan yang disampaikan Anies justru disebut mengada-ada oleh para Buzzer dan sampah peradaban.

Akankah agenda kazaliman Buzzer dan sampah peradaban terhadap Anies berhenti? Tentu saja tidak akan berhenti, karena misi mereka adalah menjegal Anies agar tidak maju sebagai Calon Presiden 2024.

Sungguh miris, Pilpres yang masih empat tahun lagi, meluruhkan empati kemanusiaan, namanya juga Buzzer. Mereka memang dibayar untuk menzalimi Anies Baswedan.

*Syamsul Al Akbari, Komentator Sosial