Mengenang Syekh Umar Mukhtar Pahlawan Libya Sang "Singa Padang Pasir"
Rabu, 14 Oktober 2020
Faktakini.net
Mengenang 86 Tahun Sang Legenda “Singa Padang Pasir”
Omar Mukhtar
Delapan puluh enam tahun lalu, Omar al-Mukhtar, seorang figur ulama sekaligus mujahid yang memimpin rakyat Libya berjihad melawan penjajahan Inggris, Perancis, dan Italia telah gugur. Namun namanya masih terukir indah dalam sejarah bangsanya dan dunia Islam.
“Ketidakadilan mengubah orang-orang yang tertindas menjadi pejuang”. Bangsa Muslim Libya tidak bisa melupakan ungkapan penuh keyakinan ini yang diucapkan oleh pemimpin perlawanan Omar al-Mukhtar (1862-1931) yang menghabiskan 20 tahun sisa hidupnya untuk memerangi penjajahan Italia di negerinya.
Delapan puluh enam tahun telah berlalu sejak al-Mukhtar gugur sebagai syuhada, namun seolah ia masih terus hidup dalam memori kolektif rakyat Libya. Bukan hanya karena ia adalah seorang pejuang perlawanan, namun juga karena ia memiliki kualitas kepribadian yang membuat banyak orang kagum, termasuk kaca-matanya yang khas di masa itu.
Persis tanggal 16 September 1931, pemimpin perlawanan berusia 73 tahun itu akhirnya dihukum gantung oleh penjajah Italia setelah ia menyatakan menolak untuk menerima syarat-syarat pembebasan dirinya dari hukuman mati. Sejak itu, Omar al-Mukhtar terus menjadi simbol perlawanan para pemuda Libya dari generasi ke generasi.
Perjalanan Hidup Sang Legenda
Omar al-Mukhtar lahir pada tahun 1862 di desa Zawiyat Janzur bagian timur wilayah pesisir Libya. Daerah pantai timur ini ditinggali oleh suku terkuat di Libya, yaitu al-Manfah, yang mendominasi wilayah timur.
Ayah Omar al-Mukhtar meninggal dunia ketika dalam perjalanan yang penuh risiko ke kota Mekkah untuk melaksanakan ibadah Haji. Sesuai keinginan ayahnya, Omar al-Mukhtar tumbuh dari masa kanak-kanak menjadi dewasa bersama seorang ulama sekaligus sahabat keluarganya, yaitu Syeikh Hussein Ghariani. Di bawah bimbingan dan pengawasan Syeikh Ghariani inilah Omar muda berhasil menghafalkan seluruh juz al-Quran dengan sempurna.
Al-Mukhtar kemudian pergi ke oasis Al-Jaghbub di Libya timur dan bekerja di markas Dakwah Sanusiyah. Dakwah Sanusiyah adalah gerakan reformis Islam yang didirikan oleh Syeikh Muhammad Ibnu Ali Sanusi. Ia tinggal di sana selama delapan tahun, belajar diniyah dan ilmu-ilmu Islam lainnya dari tokoh cendekiawan Muslim gerakan Sanusiyah, termasuk seorang ulama terkemuka Syeikh al-Mahdi al-Sanusi.
Pada tahun 1897, Syeikh al-Mahdi menunjuk Omar al-Mukhtar sebagai gubernur di kota timur Libya, Zawiyat al-Qusour. Di sinilah al-Mukhtar mulai dikenal reputasinya sebagai pemimpin yang bijaksana, adil, dan mampu menyelesaikan berbagai masalah dan sengketa. Selama periode ini, ia diberi gelar “Sidi Omar” atau “Sir Omar”, sebuah gelar yang hanya dianugerahkan kepada masyayikh dan ulama-ulama besar gerakan tersebut.
Kemudian, Omar al-Mukhtar pergi ke Sudan di mana ia menjabat sebagai deputi Syeikh al-Mahdi al-Sanusiyah selama beberapa tahun. Setelah Syeikh al-Mahdi al-Sanusiyah wafat, Omar al-Mukhtar sekali lagi ditunjuk sebagai seorang Syeikh di Zawiyat al-Qusour. Penunjukan dirinya ini disambut baik oleh kekaisaran Ottoman atau Khilafah Utsmaniyah Turki yang memerintah Libya waktu itu atas reputasinya yang baik dalam hal kepemimpinan.
Berjuang dengan Pena, Lalu Angkat Senjata
Dalam perjalanan hidup selanjutnya, Omar Al-Mukhtar yang mulanya dikenal sebagai seorang ulama Islam kemudian memilih menjadi pejuang yang melakukan pemberontakan bersenjata melawan pasukan penjajah Inggris, Perancis, dan Italia. Perlawanan bersenjata pertamanya dimulai melawan pasukan Inggris yang ditempatkan di sepanjang perbatasan Mesir dengan Libya. Ia juga bertempur melawan pasukan kolonial Perancis yang mencoba menguasai Sudan selatan dan Chad pada tahun 1900.
Dalam perang yang dideklarasikan oleh Italia melawan Kekhilafahan Turki Utsmani pada tahun 1911, sosok Omar al-Mukhtar menjadi terkenal dan mendapat julukan “Syeikhul Mujahidin” setelah berhasil memobilisasi 1.000 pejuang jihadis dari Zawiyat al-Qusour, dan kemudian bergabung dengan pasukan Khilafah Utsmaniyah di timur Benghazi.
Pada tahun 1912, secara sepihak Roma mengumumkan Libya sebagai daerah koloni Italia. Selama 20 tahun berikutnya, al-Mukhtar memimpin perlawanan jihad rakyat Libya menentang penjajahan Italia yang menderita banyak kekalahan dan kerugian besar akibat perlawanan rakyat pimpinan al-Mukhtar yang sudah menjadi bagian dari pasukan Khilafah Utsmani dengan menggunakan taktik gerilya “hit and run”.
Banyak pertempuran di antaranya terjadi di kota bagian timur laut Libya, Derna, dan sekitarnya. Termasuk yang melegenda adalah pertempuran dua hari pada tahun 1913 yang menewaskan 70 tentara agresor Italia dan ratusan lainnya luka-luka.
Singkat Cerita Tentang Kuda dan Kacamata
Pada tahun 1930, pasukan penjajah Italia bentrok dengan mujahidin dalam sebuah pertempuran besar. Pertempuran ini terjadi setelah pasukan Italia menemukan kuda milik Omar al-Mukhtar beserta kacamata sang pemimpin yang bentuknya khas itu. Ini adalah momentum di mana komandan pasukan Italia Marsekal Rodolfo Graziani membuat pernyataannya yang terkenal, “Hari ini kita menemukan kacamata al-Mukhtar, besok kita akan temukan kepalanya.”
Singkat cerita setelah melewati perjalanan panjang penuh kemenangan selama 20 tahun jihad membela kebenaran melawan imperialisme-kolonialisme Eropa (Inggris, Perancis, dan Italia), terjadilah peristiwa penangkapan itu.
Pada tanggal 11 September 1931, selama pertempuran berlangsung melawan pasukan kavaleri Italia, dua kuda pasukan al-Mukhtar dilaporkan terbunuh. Demikian menurut saksi mata orang-orang Libya. Setelah salah satu anggota pasukan Omar al-Mukhtar memanggilnya dengan panggilan “Sidi Omar” di tengah panasnya pertempuran, akhirnya identitas Omar al-Mukhtar bisa dengan mudah diketahui oleh pasukan penjajah Italia, yang kemudian menangkapnya.
Tiga hari kemudian pada tanggal 14 September, Graziani tiba di Benghazi untuk mengadakan pengadilan khusus yang dipaksakan untuk mengadili al-Mukhtar. Keesokan harinya, pahlawan perlawanan jihad rakyat Libya itu dijatuhi hukuman mati dengan digantung.
Merdeka atau Mati
Selama persidangan, orang-orang Italia menawarkan Omar al-Mukhtar akan bebas dari hukuman mati dengan syarat bahwa ia harus menyerukan kepada pasukan mujahidin untuk meletakkan senjata dan menghentikan perlawanan.
Menyikapi tawaran ini, Omar al-Mukhar membuat pernyataan yang terkenal,“Jari telunjuk saya yang menyaksikan di setiap sholat bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Nabi Muhammad Utusan Allah, tidak mampu menulis satu kata pun untuk berdusta, (bahwa) kami tidak akan menyerah. Kami akan menang/merdeka atau mati!”
Pagi hari tanggal 16 September 1931 di Salouq yang terletak sekitar 50 kilometer di selatan Benghazi, al-Mukhtar dibawa dengan tangan diborgol ke tiang gantungan. Ia (Omar al-Mukhtar) menghadapi hukuman mati tersebut dengan membaca Kalimat Syahadat rukun Islam pertama di hadapan 20.000 ribu orang yang berkumpul dan menyaksikan kepergian sang pemimpin besar untuk selamanya.
Sumber: Worldbulleting