Abdullah Hehamahua: Ahmad Sofyan (Ambon) Syuhada FPI, Anak Janda Yang Dibunuh Polisi

 





Jum'at, 5 Februari 2021

Faktakini.info

AHMAD SOFIYAN, ANAK JANDA YANG DIBUNUH POLISI

Abdullah Hehamahua

       Sewaktu mau meninggalkan rumah Khadavi, Hendra Mulyana, sang ayah bersama isteri, Monalisa, menghadiahi kami berlima “berkat”. Isinya, sajadah dan Al-Qur’an. Disebabkan bukan lagi Penyelenggara Negara, saya terima bingkisan tersebut. Sewaktu di KPK, bingkisan itu termasuk gratifikasi sehingga saya akan menolaknya. Jika terpaksa terima, saya harus lapor ke kantor. Direktorat Gratifikasi akan menentukan, apakah bingkisan itu bisa saya miliki atau disita oleh negara. 

       Dalam perjalanan menuju rumah Ahmad Sofiyan, malam itu juga, 15 Januari 2021, saya merenung. Hendra Mulyana, mantan staf supermarket yang sekarang hanya kerja serabutan, bisa menyekolahkan kedua anaknya. Bahkan, kakaknya Khadavi, Anandra Monica Poetrie sedang mengambil program S2. Hendra mengatakan, isterinya (karyawan swasta) berjanji, kalau Khadavi selesai S1, dia diminta untuk ambil S2. Sayang, rencana mulia tersebut kandas di bawah nafsu keserakahan polisi yang membunuh Khadavi dan lima rekannya . 

       Kami berlima menuju Jalan Utan Panjang III, Kemayoran. Tiba di gang I, mobil diparkir sekitar 100 meter dari rumah, tempat hajatan berlangsung. Suara tahlilan seratusan orang yang memadati gang itu membuat kami tidak leluasa berbual. Ini acara tahlilan di rumah orang tua Ahmad Sofiyan. Beliau, korban pembunuhan polisi di tol Jakarta – Cikarang KM50, 7 Desember 2020. Dari enam korban kebrutalan aparat di KM50 itu, rumah ini, tempat kedua yang kami datangi.

Ahmad Sofiyan dan Pistol

       Rumah orang tua Ahmad Sofiyan alias Ambon, ukurannya tidak jauh beda dengan yang dipunyai keluarga Khadafi. Perbedaannya, rumah orang tua Ahmad, dua tingkat, warisan kakek. Ibunya Ahmad Sofiyan seorang janda. Ahmad Sofiyan alias Ambon berumur 26 tahun. Belum menikah. Beliau hanya tamatan SD kemudian mengambil paket C, SMP. Musykil, apakah dengan pendidikan paket C, Ahmad Sofiyan dapat merakit senjata seperti dituduhkan polisi.? 

       Teringat kasus mantan Ketua KPK, Antasari Azhar yang dituduh polisi, membunuh Nasruddin Zulkarnaen, 2009. Di Pengadilan, para tersangka saling menuduh sebagai pemberi perintah eksekusi. Jadi, siapa sebenarnya yang memberi perintah untuk membunuh Nasarudin.? Begitu pula dengan kasus di KM 50. Siapa yang membunuh dan atas perintah siapa.? Selongsong peluru yang disebut Komnas HAM sebagai milik laskar FPI, valid.?

       Katakanlah, Ahmad Sofiyan dapat merakit senjata. Pertanyaannya, apakah peluru yang digunakan berupa biji tangkil, jagung atau peluru asli.? Jika peluru asli, siapa yang memproduknya.? Katakanlah peluru itu diproduk pabrik resmi, Pindad. Namun, apakah karyawan pabrik ini yang mejual peluru ke laskar FPI.?  Mungkin juga, Ahmad Sofiyan membeli peluru di pasar gelap. Jika ada pasar gelap di Jakarta dan sekitarnya, siapa yang bertanggung jawab.? FPI, HTI, MUI, BIN atau polisi. “Tepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.”

       Oh ya, teringat kerusuhan rasial di Maluku dan Maluku Utara (1999 – 2002) yang menelan ribuan korban nyawa. Mayoritas penduduk kampung saya, pandai besi, termasuk ayahku. Olehnya, mereka dapat membuat senjata api rakitan. Namun, peluru yang digunakan, asli dan tertulis nama pabriknya. “Ale dapa paluru itu dar sapa,” tanyaku dalam logat bahasa kampung. Terjemahannya, “anda dapat peluru itu dari siapa.” Sambil berbisik, mereka bilang kalau peluru itu diperoleh dari aparat. Hal yang sama saya temukan sewaktu melawat korban kerusuhan di Maluku Utara, khususnya di desa Tamilou, Tidore. Peluru yang digunakan juga diperoleh dari aparat setempat. Halo pak Kapolri, tugas menjaga ketertiban masyarakat, termasuk pasar gelap jika benar anggota laskar FPI memeroleh peluru. Apa kabarnya pak.? Ah, biarlah hal itu menjadi urusan Komisi 3 DPR. Mungkin Komisi 3 DPR dapat memeroleh data bahwa, selongsong peluru yang disebut Komnas HAM sebagai berasal dari laskar FPI itu, sebenarnya berasal dari Penembak Misterius seperti masa orde baru.

Nusaibah-nya FPI

       Gang sempit di depan rumah Ahmad Sofiyan yang digelar tikar, dipadati jamaah.  Ada seratusan orang. Mereka khusyuk tahlilan. Ruang tamu yang sempit juga sudah dipadati pelayat. Jalan keluar, ibunya Ahmad menjumpai kami di gang yang belum dipadati pelayat. Namanya Herlina. Tubuhnya ramping. Tingginya sekitar 155 cm, setinggi saya. Beliau mengenakan jilbab yang rapi dan benar. Bukan jilbab ‘fesyen’ seperti para Menteri, anggota DPR atau petinggi partai sewaktu mengunjungi Aceh Darus Salam. Maklum, provinsi yang menghadiahkan dua pesawat terbang pertama untuk Indonesia yang baru merdeka, berlaku syariat Islam secara terbatas. Jadi, tinggalkan Aceh, mereka kembali telanjang rambutnya. Tak ubahnya PSBB, kreasi Jokowi yang menolak konsep ‘lock down’ nya gubernur Indonesia, Anis Baswedan. 

      Jilbab Herlina mengekspresi kualitas keislamannya. Hal tersebut tergambar ketika beliau mengatakan bahwa, tawaran uang duka dari Babinsa setempat, ditolak. Masyaa Allah.! Seorang janda sederhana, menolak uang duka dari pemerintah. Padahal, pekerjaan sehari-hari hanya menjual goreng-gorengan. Hasilnya Rp. 200 ribu per hari. Itulah penghasilan yang digunakan untuk membiayai dirinya dan dua anaknya: Ahmad Sofiyan dan Ridwan. “Apakah ibu bersedia bermubahalah dengan pihak kepolisian, bahwa Ahmad bukan teroris atau pengedar narkoba,?” tanya saya. “Siap, supaya mereka dilaknat oleh Allah SWT,” jawabnya dengan tegas.

       Mendengar jawaban itu, dalam perjalanan pulang, terbayang kisah Nusaibah binti Ka'ab. Beliau salah seorang sahabiyah dari golongan Anshar. Dikisahkan, suatu hari, Nusaibah mendengar hiruk pikuk para sahabat menuju medan perang Uhud. Hal itu segera diinformasikan ke suaminya, Said. Laki-laki itu segera bangkit, mengenakan baju perang dan menaiki kudanya. "Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang," pinta Nusaibah, haru. Teringat, sewaktu unjuk rasa di MK (2019), mayoritas mereka yang hadir dan bersamangat tinggi adalah kaum ibu. Inilah fraksi emak-emak yang protes, suara mereka dirampas dalam Pilpres 2019.

       Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar (15) dan Saad (13), memerhatikan ibu mereka dengan pandangan cemas. Tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda dan dengan sedikit gugup, berkata "Ibu, salam dari Rasulullah SAW. Suami Ibu, Said, baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid." Nusaibah tertunduk sebentar,  hening… "Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un," gumamnya, "Suamiku telah menang perang. Terima kasih ya Allah," sambungnya.

       Sewaktu prajurit pemberi kabar itu pergi, Nusaibah memanggil Amar, anaknya. Nusaibah tersenyum ke arahnyanya di tengah tangis yang tertahan, "Amar, kau lihat ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih karena tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan bagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia.?" Amar mengangguk. Dadanya berdebar keras, menunggu apa yang akan diucapkan ibunya. "Ambillah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Rasulullah SAW." Mata Amar bersinar-sinar. "Terima kasih bu. Inilah yang aku tunggu sejak tadi. Aku ragu seandainya ibu tidak memberi peluang bagiku untuk membela agama Allah."

       Putra Nusaibah, remaja yang berbadan kurus itu memacu kudanya, mengikuti jejak ayahnya. Tidak terlihat ketakutan di wajahnya. "Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayahku yang telah gugur," Amar mengenalkan diri. Rasulullah SAW terharu, lalu memeluknya. "Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu."

       Hari itu, pertempuran berlalu cepat sampai petang. Pagi sekali, keesokannya, seorang utusan Rasulullah SAW tiba di rumah Nusaibah. "Apakah anakku gugur,?" tanya Nusaibah. Utusan itu menunduk sedih sambil mengiyakan, "Betul…."

Tiba-tiba, "hai utusan," ujar Nusaibah. "Kau saksikan sendiri aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini. Izinkan aku ikut bersamamu ke medan perang." Utusan mencegah. Sebab, Nusaibah seorang perempuan. Tanpa menunggu jawaban utusan tersebut, Nusaibah memacu kudanya, menghadap Rasulullah SAW. Baginda mendengar semua perkataan Nusaibah. Rasulullah pun meminta Nusaibah bergabung dengan para Muslimah yang merawat pasukan terluka.

"Pahalanya sama dengan yang bertempur," hibur Rasulullah SAW. Nusaibah pun segera melaksanakan perintah junjungannya. 

      Suatu saat, ketika sedang memberi minum seorang prajurit muda yang luka, tiba-tiba rambut Nusaibah terpercik darah. Beliau melihat kepala seorang prajurit muslim tergolek, terbabat senjata orang kafir. Nusaibah murka. Apalagi, dilihatnya Nabi terdesak karena serangan musuh. Dia bangkit dengan berani sambil mengambil pedang perajurit yang tewas itu. Bagaikan singa betina yang marah karena anaknya diusik manusia, Nusaibah membunuh puluhan orang kafir. Suatu waktu, seorang musuh mengendap dari belakang dan melukainya. Usai perang Uhud, Nusaibah tercatat sebagai perisai Nabi SAW dengan tidak kurang 12 luka di tubuhnya.

       Apakah Herlina, Monalisa, dan 4 ibu lain yang anak-anaknya dibunuh polisi akan tampil sebagai Nusaibah-Nusaibah baru. Apakah ibu dari 11 orang yang meninggal dalam peristiwa 21 dan 22 Mei 2019 di depan kantor Bawaslu akan mengikuti jejak Nusaibah. Apakah ibu-ibu dari 800-an anggota KPPS yang meninggal secara tidak wajar dalam Pilpres 2019, akan menuntut hak mereka seperti yang dilakukan Nusaibah. Setidaknya mengikuti jejak Herlina yang menolak dana santunan Pemerintah kecuali para pembunuh dijatuhi hukuman mati juga. Semoga !!!

Depok, 20 Januari 2021.