Gus Rumail: Niqobah Asyraf Iran, Irak, Turki, Hijaz, Yaman, dan Jordania Semuanya Mengisbat Baalawi
Selasa, 10 Oktober 2023
Faktakini.info
Rumail Abbas
PPI
Perbedaan saya dan Kiai Imaduddin (dkk) sepertinya satu hal: audiens kami berbeda umur!
Kiai Imad, dalam semua video yang beredar, lebih banyak ceramah (monolog) di depan mukhotob yang umurnya di atas 37 tahun. Sementara “ceramah” saya cenderung dialog, dengan usia audiense 25-35 tahun.
Tentu saja daya tangkap generasi yang berbeda ini tidak mirip (atau tidak identik). Dan saya sengaja mengambil “pasar audiens” pelajar karena lebih mudah diajak bicara ‘ilman bi ‘ilmin.
Seperti pertemuan malam ini di sekitaran Blok-M (atau mana saya lupa, karena mengandalkan share location Google Maps).
Syaugi Muhdlor, sebelah kanan saya, tiba-tiba nge-WA:
“Lagi di Jakarta? Aku sampai Rabu di Jakarta, nih. Sekitaran blok-M.”
Sehabis isya tadi saya baru sampai ke “penampungan”, lumayan melelahkan karena sejak pagi hingga isya ini ngurus kerjaan (dan sesekali nyelipin riset Baalawi).
“Selain saya, ada anak PPI lain yang nanti ikut ngopi.” Tambah Syaugi.
Tentu saja hal seperti ini tak bisa saya lewatkan. Akhirnya, dari pukul 11 hingga jam 3 pagi, saya berdialog dengan sindikasi NU yang tergabung dalam PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) yang punya gawe di Jakarta nanti pagi.
Syaugi mewakili Yaman, ada PPI Azerbaijan, PPI Lebanon, dan PPI Mesir (maaf, saya sampai lupa nama mereka 😅).
Kenapa audiens umur segini lebih challeging (baca: menantang)? Karena mereka sudah “rebel” (punya watak pemberontak) sejak lahir hingga remaja.
Suka membantah.
Membicarakan teori Baalawi di depan mereka akan dihadapkan pada gugatan yang rasional, jadi saya tidak bisa sepenuhnya monolog (suara satu arah) dan harus mempertahankan tesis saya dengan baik.
Karena mereka terpelajar, tentu penjelasan saya tidak boleh jauh-jauh dari ilmu dan kaidah pemikiran ilmiah.
Beda dengan audiens Kiai Imaduddin.
Saat dikasih tahu niqobah internasional tidak mengisbatkan Baalawi, banyak yang langsung percaya. Setelah saya cek ke beberapa niqobah (Iran, Irak, Turki, Hijaz, Yaman, dan Jordania), ternyata tidak ada satupun yang tidak mengisbatkan Baalawi.
Setelah dikasih tahu DNA Baalawi tidak sahih jadi cucu nabi, banyak yang langsung percaya. Padahal jika dihitung TRMCA yang jadi Quraish saja bermasalah (masak Quraish itu sezaman dengan nabi versi tes DNA?).
Saat tidak ada catatan Ubaidillah selama 550 tahun, banyak yang percaya hal itu adalah dalil Baalawi batal nasabnya. Padahal, tidak semua kitab nasab ditelaah dan dicari (bahkan Al-Ubaidili cuma satu yang dikutip, yaitu Tahdzibul Ansab).
Saya sering diminta menunjukkan bukti sezaman, bahkan ditanya kredensi saya, jurnal saya, penelitian saya, sponsor saya, integritas saya, dikatai Suneo (padahal mirip Dekisuki), Sun Go Kong (padahal dunia sedang menikmati One Piece), dan macam-macam.
Tapi satupun tidak ada yang meminta bukti dari Raden Faqih: niqobah internasional mana yang membatalkan Baalawi?
Pertanyaannya: apakah enam niqobah ini berbohong, ataukah Raden Faqih?
Jadi sebelum menagih saya soal bukti sezaman, ada baiknya menanyakan ke Raden Faqih dan Kiai Imaduddin (karena merekalah pihak penggugat): niqobah internasional bagian mana yang membatalkan Baalawi? Terus, Bani Jamil itu kabilah mana?